KM Rumah Adat

Rumah Sasadu


Pulau: Maluku

Provinsi: Maluku Utara

Kabupaten: Halmahera Barat

Rumah Panggung: Ya

Suku: Alifuru

Rumah adat Sasadu merupakan rumah adat yang diwariskan oleh leluhur suku Sahu di Pulau Halmahera Barat, Maluku Utara. Sasadu berasal dari kata Sasa – Sela – Lamo atau besar dan Tatadus – Tadus atau berlindung, sehingga Sasadu memiliki arti berlindung di rumah besar. Rumah adat Sasadu memiliki bentuk yang simpel atau sederhana yaitu berupa rumah panggung yang dibangun menggunakan bahan kayu sebagai pilar atau tiang penyangga yang berasal dari batang pohon sagu, anyaman daun sagu sebagai penutup atap rumah adat dan memiliki dua pijakan tangga terletak di sisi kiri dan kanan. Pada rumah adat Sasadu terdapat dua ujung atap kayu yang diukir dan memiliki bentuk haluan dan buritan perahu yang terdapat pada kedua ujung atap. Bubungan tersebut melambangkan perahu yang sedang berlayar karena suku Sahu merupakan suku yang suka berlayar mengarungi samudera. Selain itu pada bubungan atapnya digantungkan dua buah bulatan yang dibungkus ijuk. Bulatan itu menggambarkan simbol dua kekuatan supranatural yaitu kekuatan untuk membinasakan dan kekuatan untuk melindungi. Rumah adat Sasadu tidak memiliki pintu dan sisi-sisinya tidak memiliki dinding penutup. Untuk memasuki rumah adat Sasadu terdapat 6 jalan masuk sekaligus jalan keluar. Setiap jalan diperuntukkan untuk orang-orang tertentu. Dua jalan masuk dan keluar khusus untuk perempuan, dua jalan khusus untuk lelaki, dua jalan khusus untuk para tamu. Suku Sahu merupakan suku yang menjunjung tinggi dan sangat menghargai penduduk wanitanya. Hal ini ditunjukkan pada bagian dalam rumah adat Sasadu. Selain terdapat dego-dego (dipan bambu) untuk duduk, pada bagian dalam ruangan tersedia dua buah meja, dimana satu meja khusus untuk perempuan di letakan pada bagian depan dan sedangkan satu meja yang diperuntukan bagi laki-laki di letakan pada bagian belakang. Penempatan meja perempuan pada bagian depan dapat diartikan bahwa bagi suku Sahu wanita akan didahulukan dan laki-laki akan selalu melindunginya dari belakang. Rumah adat Sasadu ini dibangun tanpa menggunakan paku tetapi menggunakan bahan alam yaitu pasak kayu untuk memperkuat sambungan dan tali ijuk sebagai pengikat rangka atap. Akan tetapi lantainya dibangun menggunakan semen karena pemeliharaannya lebih mudah. Rumah adat ini juga dilengkapi bendera besar yang disebut panji dan bendera kecil yang disebut dayalo. Disekelilingnya dihiasi kain putih berbentuk bukit-bukit kecil yang disebut paturo yang menunjukkan lambang Negara kepulauan Republik Indonesia. Pada bagian pusat di dalam rumah adat Sasadu, utamanya diletakkan alat musik tradisional Kakabelu. Kakabelu berbentuk gendang panjang yang terbuat dari batang pohon sagu yang disusun saling menyilang. Kakabelu utamanya disuguhkan pada upacara adat atau penyambutan tamu.


Galeri